ChilliBox

  • HOME
  • NEWS
  • BLOG
  • PROFIL
    • PROGRAM
    • EKSTRAKURIKULER
    • KALENDER PENDIDIKAN
  • FASILITAS
  • PPDB 2013
  • BLOG GURU
  • ABOUT US
    • Kepala Sekolah
    • Guru Kelas 1
    • Guru Kelas 2
    • Guru Kelas 3
    • Guru Kelas 4
    • Guru Kelas 5
    • Guru Kelas 6
    • Guru Bidang Study
    • Fungsional

Laboratorium Bahasa

  • SDN MENTENG 01
    • Artikel
      • Laboratorium Bahasa
Share |
  • Author
    admin
    Category
    Artikel
    Comments
    0

    Hal-Hal Utama

    Keefektifan laboratorium bahasa disekolah-sekolah Indonesia pada saat ini sangat rendah dan tergantung pada kemampuan dan kepandaian masing-masing guru serta kepala sekolah diantara sekolah-sekolah tersebut. Situasi seperti ini timbul karena model laboratorium bahasa yang ada kebanyakan tidak dipergunakan serta penyelenggaraan penginstalasian laboratorium bahasa di sekolah tidak diawasi kwalitasnya ( tidak adanya standarisasi kwalitas ), juga masalah operasional (termasuk pembiayaan yang pro-aktif dan reaktif , suku cadang, pemeliharaan, pelatihan dan anggaran perlatan ) tidak ditujukan secara efektif. Penginstalasian laboratorium bahasa biasanya tidak berdasarkan pada rencana jangka waktu yang cukup lama dan kurang terkoordinasi. Rencana teknologi, pelatihan guru dan pengenalan peralatan mengajar sebaiknya harus sudah diperkenalkan sebelum peralatan tersebut sebelum dipasang.

    Berdasarkan situasi yang ada

    Dalam tahun 1982/83 sebanyak 500 Tandberg (sistem 500) Audio Active Comparative (ACC) laboratorium bahasa sebenarnya sudah diinstaslasi disekolah-sekolah Indonesia. Banyak laboratorium Tandberg yang asli masih teta beroperasi. Meskipun, sangat bervariasi sekali dalam hal tingkat ketahanannya juga dalam hal penggantian suku cadang sekarang ini menjadi masalah yang cukup serius. Dan mereka telah “tersapu” oleh penginstalasian baru ( kebanyakan laboratorium bahasa Panasonic ) yang sampai saat ini masih terus bertahan.

    Menuju Model lebih baik

    Syarat utama bagi para pekerja baik yang profesional maupun semi-profesional di Indonesia adalah kemampuan berbahasa asing dan kemampuan komputer. Dan hal yang sangat ditekankan dilapangan adalah kemampuan berbicara / mendengarkan. Mengingat dari seluruh wilayah nusantara hanya 30 % dari lulusan SMU yang melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi ( 70 %nya terjun langsung dalam lapangan kerja ), kemampuan dalam hal tersebut (berkomunikasi) dalam lapangan kerja paling tidak dalam tingkat seimbang pemakaiannya, dan paling tinggi tidak lebih dari kemampuan untuk membaca dan menulis ( biasanya cenderung berorientasi ke tingkat akademi). Sangat jelas bahwa sekarang alokasi waktu untuk mempraktekan kemahiran berbahasa dalam program belajar di sekolah kurang, padahal itu adalah kunci utama yang harus diperhatikan

    Model baru yang mana saja di Indonesia sekarang harus memperhatikan beberapa faktor berikut;

    • akuisisi praktek kemampuan berbahasa (praktek berbicara, mendengarkan dan memahami suara dari penutur asli, meningkatkan keberanian),
    • ukuran kelas (saat ini jumlah maximum siswa adalah 48 orang), fleksibilitas gaya mengajar (pendekatan komunikatif oleh guru bahasa tidak tercermin dalam model rancangan sekarang ini),
    • kemampuan memonitor dan bekerja dengan masing-masing siswa (dalam semua bentuk pelajaran),
    • sistem perawatan prventif.

    Bentuk rencana-ruangan ini mengambarkan 24 siswa dengan bentuk laboratorium-U. Telah dilakukan banyak sekali cara untuk menyelesaikan banyak masalah yang secara spesifik berhubungan dengan kebutuhan program sekolah bahasa. Fokus utama dalam membangun model laboratorium bahasa adalah kwalitas. Dan pertama yang harus diperhatikan adalah ukuran kelas, kegiatan laboratorium, dengan definisi harus memberi kesempatan untuk percobaan yang dapat dimonitor dengan bantuan guru yang sesuai dengan kebutuhan siswa masing=masing. Dibutuhkan usaha yang sangat besar untuk memonitor 48 siswa dalam waktu 45 menit kegiatan mengajar (dikurangi waktu untuk pengenalan pelajaran dan waktu memeriksa ulang) hal ini sangat tidak realisitis. Konsep awal untuk memecahkan masalah ini berpusat diseputar merubah ukuran kelas (dibagi dua), serta membagi ruang laboratorium yang ada dengan partisi (dinding) kaca. Pada ruang ke dua (berkaca) menjadi ruang Self-Access (SA) yaitu tempat dimana siswa/i dapat belajar secara mandiri. Di ruang Self-Access terdapat fasilitas seperti kaset rekaman (kalau ada sisa dari lab yang lama maka ini dapat dimodifikasi), video/TV dan peralatan mendengar (pada kebanyakan sekolah sudah mempunyai televisi dan video yang jarang dipakai di ruangan lain), bahan yang berhubungan dengan kurikulum (yang dibuat sendiri). Materi SA dihasilkan dari sumber-sumber bahan yang ada di perpustakaan termasuk koleksi “Languages Other Than Indonesian” (LOTI).

    Walaupun tujuannya untuk memeriksa pengadaan sumber-sumber bahan yang ada di perpustakaan untuk keperluan fasilitas SA, fenomena yang ada sangat mengherankan. Yaitu kebanyakan setiap mengunjungi perpustakaaan selalu kosong, yang ada hanya penjaga perpustakaan atau staf yang hanya mengawasi buku-buku. Berdasarkan pengamatan, mengapa perpustakaan tidak dipergunakan oleh siswa alasannya adalah semua siswa berada didalam kelas. Nyata sekali dalam hal ini bahwa guru tidak biasa memanfaatkan fasilitas perpustakaan sebagai bagian dari strategi mengajar di kelas mereka. Perpustakaan pada dasarnya hanya berfungsi tidak lebih sebagai gudang buku. Hal ini menimbulkan pikiran logis dan jauh lebih bermanfaat untuk megembangkan atau merubah fasilitas perpustakaan daripada membangun ruang khusus berkaca (yang hanya bisa dipakai oleh para siswa bahasa). Kelas laboratorium bahasa dapat dibagi menjadi dua kelompok (masing-masing 24 siswa), dan 24 siswa yang tidak ikut kelas laboratorium dibuatkan jadwal untuk mengunjungi perpustakaan. Rencana ini juga lebih efektif apabila memanfaatkan staf perpustakaan dan mengijinkan guru bahasa lebih bebas untuk memfokuskan diri pada kegiatan belajar bahasa di laboratorium.

    Keuntungan lebih jauh dari pendekatan seperti ini adalah meningkatnya fasilitas perpustakaan sehingga seluruh anggota lingkungan sekolah dapat menggunakannya selama jam buka perpustakaan. Konsep ini juga menimbulkan masalah penting lainnya (barangkali salah satu yang terpenting) yang perlu dihadapi yaitu – “akses perpustakaan”. Perpustakaan sekolah biasanya buka hanya selama waktu belajar dan waktu yang singkat setelah sekolah usai (biasanya 15 menit) supaya siswa dapat meminjam buku. Konsep siswa mengunjungi perpustakaan untuk belajar setelah sekolah usai tidak mendapat dukungan. Di Indonesia, dimana jumlah anggota keluarga biasanya besar dan terbatasnya ruangan pribadi dirumah-rumah, seringkali sulit bagi siswa untuk berkonsentrasi membuat pekerjaan rumah atau menemukan ruangan sepi untuk membaca. Membaca dan ketertarikan dalam membaca (minat baca) adalah salah satu dasar untuk membangun dan mendidik masyarakat. Meskipun saat ini, jam buka perpustakaan sekolah pada umumnya tidak mendukung dan mendorong siswa untuk memanfaatkan fasilitas tersebut. Hal ini bukanlah situasi yang hanya terjadi di sekolah tetapi juga di lembaga-lembaga lain, mereka memliki keterbatasan waktu perpustakaan yang singkat. Perpustakaan Nasional Indonesia menyatakan bahwa perpustakaan harus menjadi “pusat belajar mengajar”. Walaupun, hal ini perannnya jauh sangat berbeda dari situasi yang ada saat ini.

    Model laboratorium bahasa baru, berdasarkan pelaksanaannya, mempunyai potensi yang secara keseluruhan dapat meningkatkan kwalitas program belajar bahasa melalui;

    • Meningkatkan rasio guru/siswa secara makro dan pelatihan ketrampilan khusus juga untuk penilaian ketrampilan siswa secara perseorangan.
    • Meningkatkan fleksibilititas cara mengajar.
    • Persiapan untuk role-playing (memainkan peran) dan berinteraktif secara langsung untuk menambah sesi praktek berbicara / mendengar dan membantu meningkatkan rasa percaya diri siswa (ditengah-tengah laboratorium model U ini)
    • Menghilangkan sekat antara para siswa selama waktu praktek untuk menstimulasi siswa berinteraksi sehingga mendorong perkembangan rasa percaya diri.
    • Meningkatkan akses guru ke siswa untuk memonitor maupun membantu selama latihan cloze dan menulis/ mendengar.
    • Meningkatkan pengenalan akan alat bantu mengajar (papan tulis, OHP, dll)
    • Meningkatkan siswa memakai Self Access dan fasilitas perpustakaan.

    CATATAN:

    1. Diharapkan bahwa dengan meningkatkan akses dan penggunaan perpustakaan dapat mendorong siswa menggunakan fasilitas sekolah lebih sering serta membantu meningkatkan tingkat minat baca siswa (yang terpenting). Harapan yang dihasilkan selanjutnya dari penganalan self access yaitu siswa menjadi lebih peka akan kewajiban mereka mengenai pelajarannnya dan bagaimana belajar mandiri. Ini adalah ketrampilan yang ditujukan untuk persiapan yang lebih baik bagi siswa yang ingin melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi maupun yang akan terjun langsung ke lapangan kerja.

    2. Sangat penting dicatat bahwa bentuk pemikiran teknologi pendidikan (termasuk alat bantu belajar komputer) juga akan membutuhkan analisa yang cermat dan pemahaman akan semua kebutuhan serta masalah yang sustainability (terus-menerus), jauh sebelum penginstalasian dimulai. Agar semua teknologi pendidikan dapat menjadi lebih efektif, efisien serta tetap berlangsung hal tersebut sangat penting sekali untuk dipertimbangkan pengintegrasiannya ke dalam sistem pendukung, yang terbaik adalah mempersatukan keperluan kurikulum, guru dan siswa. Yang harus didahulukan pertama adalah system pendukung baru kemudian teknologi.

    e-pendidikan

  • Previous post
  • Next post
Top

Related posts

  • Waktu Sekolah Siswa SD Ditambah Empat Jam
  • Suasana Kompetisi Sakamoto
  • Hasil KOMPETISI MATEMATIKA KREATIF
  • KOMPETISI MATEMATIKA KREATIF
  • Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 2013

Share this post

Author admin

Gravatar

Leave a comment

No comments yet.

RSS Recent Posts

  • Waktu Sekolah Siswa SD Ditambah Empat Jam
  • Suasana Kompetisi Sakamoto
  • Hasil KOMPETISI MATEMATIKA KREATIF
  • KOMPETISI MATEMATIKA KREATIF
  • Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 2013
  • Kegiatan Belajar Mengajar
  • PEMANFAATAN INTERNET DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
  • Hari Raya Qurban 2012
  • Gemar Membaca
  • Siswa SDN RSBI Menteng 01 Memilih Ketua Kelas Di KPU
  • Kunjungan Dari SK Bandar Uda 2 Malaysia
  • Pentas Kreatifitas
  • Peringatan Hari Kartini
  • Peringatan Hari Pendidikan Nasional
  • Piagam

Recent Comments

  • Azizah on PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU ONLINE 2010-2011
  • dubai escort service on Matematika Mempunyai Nilai Karakter
  • admin on 1 ONS bukan 100 Gram – Pendidikan yang Menjadi Boomerang
  • Didie Kasman on 1 ONS bukan 100 Gram – Pendidikan yang Menjadi Boomerang
  • ANDI on CREATIVE MATHEMATIC COMPETITION
  • nandrolone on Matematika Mempunyai Nilai Karakter
  • untue on ThinkQuest (Tulisan ketiga)
  • buy nandrolone on Matematika Mempunyai Nilai Karakter
  • admin on PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU ONLINE 2010-2011
  • Ahmad Irjik on PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU ONLINE 2010-2011
  • Bayu Pramana on Goes to Turkey
  • Fitness programs on Top 5 Character Traits of Great Teachers
  • admin on Profil Sekolah
  • Vivi Savitri on Profil Sekolah
  • Hana on Goes to Turkey
  • hatipah haroen on PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU ONLINE 2010-2011
  • Jual drumband on PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU ONLINE 2010-2011
  • Asyifa Isvari on LOMBA DRUMBAND di SENAYAN
  • Asyifa Isvari on LOMBA DRUMBAND di SENAYAN
  • jasa seo on CREATIVE MATHEMATIC COMPETITION

Categories

  • Artikel (24)
  • Berita (10)
  • Kegiatan (32)

Archives

  • May 2013 (1)
  • March 2013 (3)
  • February 2013 (1)
  • January 2013 (1)
  • December 2012 (1)
  • October 2012 (3)
  • September 2012 (1)
  • June 2012 (1)
  • May 2012 (2)
  • April 2012 (3)
  • March 2012 (4)
  • January 2012 (1)
  • December 2011 (20)
  • November 2011 (1)
  • August 2011 (1)
  • June 2011 (1)
  • April 2011 (4)
  • March 2011 (7)
  • February 2011 (4)
  • October 2010 (1)
  • September 2010 (2)
  • August 2010 (3)

Facebook Fan

Tags

  • Guru1
  • Kompetensi1
  • Pembelajaran1
  • skripsi1
  • spice1
  • Timbangan1
SDN MENTENG 01 - 2012